Baik ayah ataupun ibu, dua orang penting dalam hidup saya ini sama-sama datang dari keluarga besar. Mereka tumbuh bersama kakak atau adik mereka di keluarganya masing-masing.
Jumlah anak dari keluarga ibu sebenarnya banyak, karena nenek pernah menikah lebih dari sekali. Tapi khusus di Desa Igirklanceng, jumlahnya ada lima, dengan masing-masing 3 anak perempuan dimana ibu sebagai si bungsu , dan dua kakak lelaki. Sedangkan dari keluarga ayah, ada 4 anak laki-laki dengan status ayah sebagai anak kedua, yang menjadi bukti cinta kakek dan nenek.
Dengan saudara lebih dari dua, karakter dan pembawaan paman / bibi pun beragam. Terutama jika saya melihat keluarga dari ibu saya, kakak-kakak ibu punya sifat serta kedekatan yang berbeda meski mereka lahir dari rahim yang sama.
Kakak pertama ibu, adalah yang tertua dari semuanya, beliau sosok yang cukup bijak karena jarang sekali berkonflik dengan adik-adiknya, kecuali dengan adik nomor tiga dimana hubungan mereka terkesan dingin dan hanya manis di luar saja. Entah karena masalah apa di masa lalu sehingga keduanya nampak tak begitu bersahabat.
Tapi konflik besar justru pernah terjadi dengan ibu dan istri paman saya, tepatnya dengan kakak ipar ibu yang ke empat.
Keduanya merupakan dua wanita dengan karakter yang bawel dan cenderung ceplas-ceplos, istilah jawanya ala. Keduanya juga punya bakat yang sama dalam berdagang. Dan kesamaan ini pula yang sering menjadikan mereka sering cek cok dengan alasan persaingan.
Hubungan mereka sempat dilanda kebisuan kala diketahui jika kakak ipar rupanya juga menyusul membuka usaha warung. Dengan karakter ibu yang kadang cenderung agresif serta defensif, ibu pun tak kuasa menahan rasa gelisahnya tentang adanya pesaing baru yang justru datang dari keluarganya sendiri.
Ah, tapi tetap yang namanya keluarga. Meski dilanda situasi yang tak mengenakan, mereka pada akhirnya tetap kembali terikat.
Seperti yang saya lihat kemarin sore, dimana ibu dan bibi nampak kembali akur berjalan bersama ke kondangan di desa seberang. Sebelum bergegas kesana, mereka sempatkan pula untuk berbelanja di toko dan tak terlihat sekali rasa canggung di antaranya. Dari penuturan ibu, mereka kini justru bekerja sama dalam berdagang sayur-mayur.
Melihat mereka kembali rukun sungguh saya merasa bahagia. Karena sebagai seorang yang plegmatis, saya sendiri sangat tak nyaman ketika melihat suatu pertentangan yang terjadi di keluarga.
Meski perbedaan pendapat ataupun persaingan sudah sewajarnya akan selalu ada. Tapi jika atas nama keluarga, tentu kita perlu sedikit mengalahkan egoisme kita. Daripada hubungan kita dengan keluarga sendiri justru tak harmonis.
Terima kasih bagi yang sudah menyempatkan membaca coretan receh tak jelas ini. Tak ada niat saya untuk menyebarkan aib keluarga di sini. Saya hanya ingin sedikit berbagi cerita. Heee
Hati tentram kalau semua rukun 🙂
SukaDisukai oleh 1 orang
Iya mba, berasa adem
SukaSuka
Kudu akur yo mas ngono wi ambi dulure 😊
SukaDisukai oleh 1 orang
Yo mba, ana apane ngko tukar pikire mesti karo keluarga sit
SukaSuka
Bener tenan mas, cocok
SukaDisukai oleh 1 orang
Penak ya ngomong ngapakan kaya kie. Hhaaa
SukaDisukai oleh 1 orang
Ngapakan iki opo mas ? Hehehe
SukaDisukai oleh 1 orang
Basa jawahan kaya ngene mba, mung kayane istilahe luwih sering dienggo wong jawa tengahan.
SukaDisukai oleh 1 orang
Oalah ngono, aku ora weruh mas.tapi enak yo ngomong jowo ngene hahaha
SukaDisukai oleh 1 orang
Ya koh mba, rasane kaya ngomong ning ngarepe dewek. Hhaaa
SukaDisukai oleh 1 orang
eh ternyata tema nya hampir mirip denganku semalam ya mas, he he, tidak sengaja hlo.
Yah namanya juga saudara, apa apa nantinya yang direpotkan ya keluarga dan saudara
SukaDisukai oleh 2 orang
Lah, gapapa lah mas. Sering ada kejadian kek gini.hhee
Ya, lebih baik hidup damai dan tentram.
SukaDisukai oleh 1 orang
Rezeki sudah ada yang atur, in syaa Allah tidak akan tertukar..
SukaDisukai oleh 1 orang
Duh bener banget mas, saya setuju.
SukaDisukai oleh 2 orang
Sik akur guyub rukun bro mbi dulure 😊😀
SukaDisukai oleh 1 orang
Ya mas, kira adem ayem uripe
SukaSuka
Bro coba komen di blog ku bro,, kenapa ya kolom komen di blog ku mendadak hilang, tahu solusinya ?
SukaDisukai oleh 1 orang
Kolom komentarnya muncul kalo artikel dah diklik gan. Terus tadi saya nyoba kok mental ya komentarnya. Di blog hostingan lain juga saya nemuin kaya gini mas. Kurang tahu saya solusinya
SukaSuka
Iya kenapa ya, mental terus.. Jadi sepi deh haha.. Buarin lah, apalgi di buka lewat broser komentar juga hilang
SukaDisukai oleh 1 orang
Ya mas, mungkin dri wp nya error. Ntar kalo ada yang perlu pasti dibaca kok mas, walau gak ninggalin komentar.
SukaSuka
Ya mas, tadinya gak tahu sih cuman banyak yang nanya kenapa postingan ku gak ada kolom koment nya..
SukaSuka
Coba ngirimin email ke wp nya mas, tim nya biasanya responsif
SukaSuka
Sudah mas setelah saya otak atik sendiri akhirnya berhasil juga mas, ternyata kendala di jetpack nya, kalau template sih gak masalah, padahal dah lama banget aq cuman ngoprek template html aja, eh masalahnya cuman di jetpack aja… Swkarang dah bisa di komentari mas
SukaSuka
Coba ngirimin email ke wp nya mas, tim nya biasanya responsif
SukaSuka
Berantem sama ipar. Ini emang paling sering terjadi di hampir tiap keluarga sih. Tapi kalo udah kompak, biasanya bakal kompak banget :’)
SukaDisukai oleh 1 orang
Iya mba bener, kadang kalo kompak jadi solid banget.
SukaSuka
Saya turut senang mas. Btul, klau nyangkut dg keluarga yg gak akur sy sring mrasa prihatin. Keluarga yg dmai itulah hrpan kita semua.
SukaDisukai oleh 1 orang
Bener mas, kalau harmonis kan dilihatnya juga enak.
SukaSuka
Halo, salam kenal mas. Keluarga yg harmonis itu mmg bukan dr tidak pernahnya berselisih, melainkan bgmna dpt akur setelah berselisih👍
SukaDisukai oleh 1 orang
Salam kenal juga mba, nah itu mba bener banget. Karena bisa keliatan tingkat kdewasaan nya ya.
SukaSuka