Memang bisa dibilang kebetulan, tapi nyatanya ini sering terjadi. Setiap kali saya tak menghadiri undangan kondangan dari teman atau orang yang saya kenal. Selang beberapa hari, saya justru bertemu dengan mereka si penyelenggara hajatan. Baik di toko ataupun di tempat lain.

Momen ini bisa dibilang menjadi momen yang canggung serta tak mengenakan.

Dan sayangnya kejadian ini baru terjadi tadi sore.

Saya dan dia memang tak begitu dekat. Namun kami beberapa tahun lalu sempat akrab.

Dia merupakan pria bernama Alex (nama samaran) yang baru saja melangsungkan hajatan. Setelah beberapa bulan sebelumnya dia telah mengikrarkan janji sehidup sematinya kepada pasangannya Dian (nama samaran juga) di hadapan penghulu.

Dan kurang lebih empat hari dilangsungkan, kemarin malam merupakan hari terakhir hajatannya. Di malam puncak tersebut serangkaian prosesi biasanya digelar, dari jujug (berkunjung ke rumah mempelai wanita dengan ragam seserahan), kirab (kembali ke rumah mempelai pria), potong tumpeng, hingga lek-lekan (begadang bersama pemuda dan lainnya dengan bermain kartu atau mainan sederhana lainnya).

Namun, karena beberapa alasan (baca : dompet tipis dan bon sudah banyak), saya pun terpaksa tak menghadiri acara tersebut. Karena ada anggaran lain menjelang bulan ramadan.

Walau pun dalam hati mengganjal karena ada rasa tak enak, tapi saya terpaksa tidak datang atau pun menyumbang.

Dan sialnya, ketika saya tengah duduk tenang menunggu pelanggan datang.

Saya yang tengah asyik bermain dengan ponsel pintar langsung kaget, ketika sosok Alex tiba-tiba tadi datang.

Dengan wajah yang terlihat semringah, dia masuk ke toko dan langsung menyapa saya. Dia juga mengatakan bahwa dia ingin membeli sesuatu dan itu rupanya kartu domino.

Dengan sedikit menyembunyikan rasa malu dan tak enak, saya pun mencoba tetap tersenyum sembari memberitahu jika apa yang dia cari tidak ada. Karena kebetulan, stok kartu domino memang sedang habis.

Agar menghindari rasa canggung, saya pun sedikit memberikan guyon, berupa pertanyaan mengapa dia yang membeli sendiri, bukan orang yang membantu disana (orang yang sinoman). Lalu dia pun hanya membalas dengan senyuman.

Saya juga sempat menawarkan kartu remi, namun menurutnya tak asyik dimainkan. Hingga dia pun beranjak pulang.

Jujur, ini sebuah situasi yang sama sekali tak menyenangkan. Bahkan ini kadang membuat saya berfikir macam-macam, termasuk seperti apa perasaan mereka ketika kemarin saya tak berkunjung. Karena saya sadari jika masyarakat di sini kan bukan tipikal orang yang cuek dan tak acuh.

Dan saat saya menemui pengalaman serupa, untuk mengatasinya biasanya saya pun melakukan hal di atas. Yakni dengan tetap bersikap ramah dan hangat. Mungkin terkesan cari muka, namun ini bertujuan menghindari prasangka buruk.

Tak asyik kan, jika mereka menyangka saya tak hadir karena alasan dendam, ataupun karena masalah pribadi dengan pihak terkait atau lainnya. Jadi, pembawaan baik tetaplah ditunjukkan. Heeee

Apa kalian juga pernah mengalami kejadian seperti ini? Share ya.

Iklan