Sumber : abitofpopmusic.com

Gelaran Eurovision 2019 telah usai, tepatnya pada tanggal 18 Mei 2019 kemarin waktu Tel Aviv atau tanggal 19 Mei di Indonesia dengan mengukuhan Duncan Laurence, penyanyi berusia 25 tahun wakil dari Belanda sebagai jawara lewat lagu “Arcade”.

Perjalanan Duncan sendiri terbilang mulus. Sejak lagunya dirilis beberapa bulan sebelum pentasnya digelar, publik banyak menjagokan lagu ini untuk menang.

Dan walau saat pemberian poin banyak hal yang mengejutkan, seperti poin dari juri yang dipolitisir hingga lebih memilih lagu dari negara tetangga atau negara yang punya kedekatan sehingga hanya mampu menempatkan Belanda di posisi kedua, namun poin dari publik masih bisa menyelematkan meski hanya berada di bawah Norwegia yang memenangkan poin dari publik.

Dan dengan poin yang seimbang ini, posisi Belanda kokoh di puncak dibanding negara lain yang nilainya jomplang antara juri dan publik, dan berkat ini pula secara otomatis Eropa pun telah memilih Belanda untuk menjadi tuan rumah ajang Eurovision di tahun depan setelah berpuasa selama 44 tahun.

Dan berbicara mengenai “Arcade”, saya sendiri memfavoritkan lagu ini disamping Italia, Norwegia, Rusia dan beberapa lagu dari negara lain.

Eurovision 2019 | My Top 10

“Arcade” merupakan balada syahdu yang dikemas minimalis namun terdengar modern. Paruh awal dominasi iringan piano dan suara penyanyi latar yang menyambut pendengar hingga suara penyanyi bernama asli Duncan De Moor tersebut masuk.

Duncan terlebih dahulu memainkan kemampuan vokalnya di bagian nada rendah dan membangunkan roh lagu yang memang sayu dan pilu.

Dipertengahan, dia mulai memainkan teknik falseto yang membuat lagu tak monoton hingga di bagian reff letupan lagu berhasil tercipta berkat permainan vokal dan penjiwaanya.

Menjelang akhir, lagu ini juga memberikan kejutan dengan dinamika vokal Duncan yang semakin luwes hingga menyambar nada yang lebih tinggi dan disertai gubahan instrumen yang dramatis dan semakin menciptakan keharuan.

Mengutip wawancara Duncan dengan wiwibloggs, lagu yang ditulis sendiri oleh Duncan bersama Joel Sjöö, Wouter Hardy, dan Will Knox ini sebenarnya terinspirasi dari pengalaman pribadi Duncan yang kehilangan sosok yang dicintai di masa muda. Dia juga bertutur bahwa Arcade adalah tentang cinta yang hilang dan berharap agar kembali, namun nyatanya tidak. Semua emosi, ketidak dewasaan, kegetiran, amarah, kebahagiaan, hingga harapan turut tertuang di dalamnya.

Dari penafsiran saya sendiri, sosok dalam lagu diibaratkan seorang yang tangah berjuang dengan candunya akan cinta dan berusaha menerima kenyataan akan kekalahannya. Cinta disini digambarkan sebuah permainan arkade yang seringkali membuat anak dari kota kecil yang jarang menjumpai menjadi lupa segalanya di kala ia bermain.

Banyak koin telah dia masukkan namun tak juga membuat ia merasa puas. Padahal dalam hati kecilnya dia tahu bahwa dalam permainan akan ada sebuah kenyataan yang menyakitkan yakni kekalahan.

Dan jika penasaran bagaimana Duncan yang juga merupakan jebolan ajang The Voice Holand ini membawakan Arcade di Eurovision kemarin. Saya sudah siapkan videnya. Dalam penampilannya, Duncan duduk di depan piano dari awal hingga akhir lagu. Sementara penggung di beri latar yang gelap yang selaras dengan suasana lagu. Dan menjelang akhir munculah sorotan lampu yang yang apik.

Lirik dan Terjemahan Lirik Lagu Duncan Laurence – Arcade

Ooh-ooh-ooh, ooh-ooh, ooh-ooh
Ooh-ooh-ooh, ooh-ooh, ooh-ooh

A broken heart is all that’s left
Hanya hati yang remuklah yang tersisa
I’m still fixing all the cracks
Aku masih memperbaiki retakannya
Lost a couple of pieces when
Kehilangan beberapa bagian ketika
I carried it, carried it, carried it home
Aku membawanya pulang

I’m afraid of all I am
Aku takut dengan diriku yang sebenarnya
My mind feels like a foreign land
Pikiranku terasa seperti sebuah pulau asing
Silence ringing inside my head
Keheningan berdering di dalam benakku
Please, carry me, carry me, carry me home
Tolong bawalah aku pulang

I spent all of the love I’ve saved
Aku habiskan seluruh cinta yang t’lah ku simpan
We were always a losing game
Kita selalu saja kalah
Small-town boy in a big arcade
Anak dari kota kecil yang berada di sebuah permainan arkade yang besar
I got addicted to a losing game
Aku kecanduan pada permainan yang kalah

Ooh, ooh
All I know, all I know
Yang kutahu hanyalah, yang kutahu hanyalah
Loving you is a losing game
Mencintaimu adalah permainan yang harus kalah

How many pennies in the slot?
Berapa banyak koin di dalam selot?
Giving us up didn’t take a lot
Mengakhiri tidaklah sulit
I saw the end ‘fore it begun
Aku melihat akhirnya sebelum itu dimulai
Still I carried, I carried, I carry on
Masih ku melanjutkan hidup

Ooh, ooh
All I know, all I know
Yang kutahu hanyalah, yang kutahu hanyalah
Loving you is a losing game
Mencintaimu adalah permainan yang harus kalah

I don’t need your games, game over
Aku tak butuh lagi permainanmu, berakhirlah sudah
Get me off this rollercoaster
Turunkan ku dari rollercoaster ini

Ooh, ooh
All I know, all I know
Yang kutahu hanyalah, yang kutahu hanyalah
Loving you is a losing game
Mencintaimu adalah permainan yang harus kalah

Ooh, ooh
All I know, all I know
Yang kutahu hanyalah, yang kutahu hanyalah
Loving you is a losing game
Mencintaimu adalah permainan yang harus kalah

Ooh-ooh-ooh, ooh-ooh, ooh-ooh
Ooh-ooh-ooh, ooh-ooh, ooh-ooh

Iklan