Saya sudah mengenal namanya sejak saya masih di bangku sekolah dasar, tepatnya dari guru agama saya. Beliau menceritakan tentang dia, siswa dari desa yang cukup terpencil, namun punya segudang prestasi hingga bisa mengikuti olimpiade Matematika mewakili sekolahnya, SDN 1 Igirklanceng hingga tingkat provinsi.

Dia bernama Tanto, sering saya dan teman memanggilnya demgan tambahan “mas”, pemuda bersahaja yang lahir dari latar belakang keluarga petani sederhana di desa Igirmanis, desa yang masih satu kelurahan dengan desa saya, Igirklanceng, namun punya medan yang cukip sulit untuk menjangakaunya. Yakni jalanan berbatu dengan adanya turunan yang cukup tajam, listrik juga baru masuk kesini beberapa tahun belakangan ini lantaran rute kesana harus melewati ladang dan hutan.

Seperti apa yang guru saya ceritakan, dia merupakan orang yang sederhana dan tidak banyak neko-neko, kiranya kesan ini yang saya dapatkan ketika saya berkesempatan mengenal dia di bangku SMP dan SMA, kebetulan kami satu sekolah di dua jenjang tersebut.

Soal prestasi tak perlulah diragukan lagi, di masa SMP dia konsisten meraih peringkat pertama selama 3 tahun berturut-turut. Berbeda dengan saya yang hanya bisa mengekor di posisi dua, tiga, atau posisi seterusnya. Heee

Tapi tak hanya jago dalam Matematika saja, kecerdasannya rupanya juga nampak di mapel lain. Tak terkecuali bahasa Inggris, meski baru mendapat materi bahasa Inggris di masa SMP, padahal sekolah saya sudah mendapat sejak kelas 6 SD. Namun, dengan mudahnya dia beradaptasi dan berhasil mendapat nilai yang baik.

Entah pola belajarnya seperti apa, di masa SMA dia juga tetap konsisten dengan prestasinya. Ya meski tak selalu menjadi nomor satu, setidaknya dia tetap masuk dalam deretan 4 besar kelas.

Di luar prestasinya, dia juga merupakan pribadi yang aktif di sekolah dalam berbagai kegiatan, mulai dari pramuka hingga OSIS. Dalam kesehariannya, ia juga pribadi merupakan pribadi yang mandiri, rajin serta agamis, ini yang saya lihat ketika saya rutin berkunjung ke kosannya dulu. Dimana dia tengah belajar dengan selalu tetap memakai atribut sholat lengkap. Dia dengan teman kosnya juga rajin mengaji di desa seberang, tak seperti saya yang ndableg. Hiiiii

Satu kekurangan yang mungkin dia miliki, dia sering tak begitu update dengan candaan atau tren yang terkini. Sehingga ada beberapa saat saya dan teman mengobrol bersama, dia nampak tak begitu menguasai. Ya, memang tak ada gading yang tak retak.

Selepas masa SMA, saya tak begitu tahu bagaimana kehidupannya di masa kuliah. Namun dari teman seangkatan kami yang tinggal bersama di sanggar, tak banyak hal yang berubah dari dia. Kesederhanaan serta kepandaianmya yang menjadi dasar kehidupannya selama ini, bahkan berhasil membuat dia wisuda secara tepat waktu dan lebih awal dibanding teman seangkatannya. 

Dan sejak di akhir tahun 2016 lalu, dia menjemput rejekinya di pulau Borneo, setelah mentuntaskan pendidikan 4 tahun di jurusan pertanian UNSOED. Dan tak banyak kabar yang saya dengar darinya beberapa waktu ini, Namun berita bahagia sekaligus mengejutkan justru saya terima dari grup WA kelas kami, CAKRA (Cah Kelas Rolas IPA) seminggu kemarin.

Tanpa disangka-sangka, Mas Tanto ternyata hendak mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi salah satu gadis teman sekelas kami dulu. Dialah mba Lina Najibah, gadis berhijab yang dulu sebenarnya mantan kekasih dari teman sekelas teman kami yang lain. Mereka berdua, baik Mas Tanto dan Mba Lina juga sebelumnya nampak tak punya kedekatan diantara keduanya. Namun entahlah, kita tak pernah tahu bagiamana Tuhan mempertemukan setiap insan dengan belahan jiwanya masing-masing.

Kondangan

Berniat untuk menjalin silaturahim sekaligus melepas rasa kangen, saya dan dua teman saya pun tadi siang menyempatkan kondangan ke kediaman Mas Tanto. 

Selepas sholat Jum’at kami pun bertiga memutuskan berangkat dengan dua motor, sebagai pengendara terbodoh dibanding yang lain, saya pun lebih memilih membonceng teman saya. Mengingat kondisi jalanannya tak begitu ramah bagi mereka yang masih amatir. Hiii

Menempuh perjalanan dengan kecepatan berkendara yang tak begitu tinggi, kami sampai di lokasi sekitar setengah tiga lebih.

Setelah masuk dan dipersilahkan duduk, sang ayah memberitahu kami jika Mas Tanto nyatanya tengah keluar untuk urusan dan sedang berada di perjalanan pulang. Tanpa menolak kami pun menunggu.

Dan disela-sela penantian kami, datanglah salah satu teman angkatan kami yang rupanya datang untuk kondangan juga dan ikut ngobrol dan bersenda gurau.

Tapi, setelah hampir satu jam menunggu sambil menikmati aneka makanan dan memuaskan obrolan ringan kami berempat, belum ada tanda juga bahwa mas Tanto pulang. Hingga akhirnya keluarga mempersilahkan kami makan terlebih dahulu, sebelum akhirnya kami putuskan untuk pulang saja. Walau mereka sempat menahan.

Di sela perjalanan, sebenarnya kami sempat masih ingin menunggu, tapi karena kami takut jika turun hujan, mengingat kabut sempat menghiasi langit, kamipun terus melanjutkan perjalanan.

Dan tiba di setengah perjalanan, ada pria yang mengendarai sepeda motor Jupiter MX dengan corak hitam-merah yang menghentikan kami dari arah berlawanan, dengan membuka helm merah yang dikenakannya, pun semakin jelas jika pria tersebut adalah Mas Tanto.

Tanpa ambil pikir lagi, kamipun menghentikan kendaraan kami dan dengan serempak menyapanya, terlihat senyum semringah dari raut wajahnya, yang tak mengalami banyak perubahan mencolok.

Sembari berbincang tentang pernikahannya dan pengalaman kerjanya kepada kami, dia juga mempersilahkan kami untuk kembali ke rumahnya lagi. Namun, dengan sangat terpaksa kami menolak lantaran alasan takut hujan turun, serta waktu yang terlalu sore, dan sudah saatnya rekan kerja saya pulang. Saya tak merasa enak jika izin terlalu lama.

Dan sebelum kami akhirnya berpisah, kami pun sempat mengabadikan gambar kami berempat lewat kamera di ponsel saya. Kami seolah acuh jika di saat itu kami berada di tengah jalanan. Hhii.. mumpung sepi.

Kecuali yang pake helm, yang lain belum laku. Hhaaaa

“Teruntuk Mas Tanto dan Mba lina, saya panjatkan do’a, Semoga Allah SWT memberi kelancaran dalam semua acaranya, dan semua Ia menjadikan kalian keluarga yang Sakinah, Mawaddah, dan Warahmah, serta memiliki keturunan yang Sholeh dan Sholeha nantinya. Aamiin”. Jangan lupakan doakan saya cepet menyusul. Ehhh

Terima kasih sudah membaca tulisan receh ini.hhee

Iklan